Tugu Jogja

Tugu Jogja
ini adalah simbol kota Jogjakarta

Kamis, 28 Januari 2010

Inventarisasi Sumber Daya Hutan

PLANOLOGI KEHUTANAN
(PK) 1
Tallysheet Risalah Hutan (PK-1) terdiri dari 3 bagian yaitu : Blanko isian mengenai informasi tentang petak/anak petak yang dirisalah, Peta Petak yang dirisalah, Blanko isian mengenai informasi Petak Ukur.
Informasi petak yang diisikan :
1. Posisi/letak Petak (KPH, BH, BKPH, RPH, dan Nomor Petak/Anak Petak)
2. Risalah sebelumnya (Tahun risalah, luas petak/anak petak, kelas hutan, KBD, Bonita, dan tahun tanam).
3. Risalah sekarang (tahun, luas petak/anak petak, kelas hutan, KBD, Bonita, tahun tanam), diisi setelah ada perhitungan hasil risalah sekarang.
4. Teknik sampling (luas sampel, Intensitas Sampling, Cara Sampling, dan bentuk sampling)
Data-data dari PK 1 selanjutnya diolah dengan bantuan blanko PK 1½ . PK 1½ ini tidak dikenal dalam pelaksanaan risalah Perum Perhutani, hanya merupakan model blanko untuk mempermudah pemahaman mahasiswa dalam perhitungan derajat kesempurnaan suatu tegakan. Di Perhutani perhitungan derajat kesempurnaan ini dilakukan pada halaman akhir PK1 sebagai rekap.
PLANOLOGI KEHUTANAN (PK) 2
Merupakan ’buku babon’ /buku induk yang memuat semua informasi tentang suatu petak/anak petak hasil risalah hutan. PK 2 ini bertujuan untuk menentukan kelas hutannya. Data – data yang diperlukan adalah : no petak/anak petak, luas, bulan risalah, jenis tanaman, peninggi, umur, bonita, dkn,kbd, kelas hutan (untuk kelas hutan kelas umur dirinci tahun tanam rata-rata, jenis permudaan, dan tanaman sela), bentuk lapangan, risalah tanah, dan risalah tumbuhan bawah.
Pertanyaan :
]1. Apa yang dimaksud dengan kemurnian, homogen dan heterogen ?
2. Bagaimana teknik pengelolaan pada keadaan tersebut ?



Jawaban
1. Kemurnian dimaksudkan terhadap jenis penyusunnya di dalam hutan tersebut, apabila dalam suatu kawasan hutan terdapat Jati semua maka dapat dikatakan tegakan tersebut murni tegakan Jati, biasanya tegakan murni cenderung homogen. Sedangkan heterogen dapat diartikan tersusun oleh berbagai jenis.

2. Dengan nilai KBD 1,124 dan umur 34 tahun maka petak tersebut termasuk kelas hutan KU IV. Pada KU masih rerlatif rawan, KU ini juga menjadi peralihan dari KU muda menuju KU tua. Pengelolaanya lebih dititikberatkan pada pemeliharaahn agar kelak pada hasilnya tetap optimal.

Blangko
Daftar Kelas Hutan(PK3)‏
Fungsi : Pengelompokan Kelas Hutan, Menghitung luas. Dari blangko daftar kelas hutan diketahui informasi mengenai kelas produksi hutan berdasar kelas umur.Dari data tersebut nantinya dapat diketahui luas area produktif dan tidak produktif.
Pengertian Volume, Ukuran isi atau kapasitas benda padat yang biasanya dinyatakan dalam pangkat tiga, misalnya m3. Volume pohon dibagi menjadi 2:
 Volume Pohon Berdiri
 Volume Pohon Rebah/Pohon yang sudah ditebang
Volume Berdiri : Volume yang diukur pada keadaan tegakan yang masih berdiri pada saat dilakukan perisalahan .
Volume Rebah : Volume batang yang diukur pada saat akhir daur (Jati: 80 tahun)‏
Analisis Hasil
Kayu Berdiri
Volume terbesar ada pada kelas hutan KU V dengan total volume tebangan mencapai 51039.52 m3
Kondisi tanah di area hutan tergolong subur dan baik untuk produksi jati.Ini dapat dilihat dri rata-rata bonita yang mencapai 3.2. Dilihat dari struktur tegakkan persebaran umurnya kurang merata,semakin tua luasannya semakin berkurang.Hal ini dpat dikarenakan adanya penjarangan atau pencurian
Luas KU muda lebih besar daripada luas KU tua . Jika terus dibiarkan maka kelestarian produksinya akan terancam dan akan berpotensi menimbulkan kerugian Jika terus dibiarkan maka kelestarian produksinya akan terancam dan akan berpotensi menimbulkan kerugian.
Kayu Rebah
 Volume total terbesar ada pada KU I,ini dikarenakan luasnya yang paling besar
 Total volume kayu rebah lebih besar dari total volume kayu berdiri
Faktor yang mempengaruhi Volume Pohon:
 Volume Kayu Batang (Vst)‏
 yang menentukan : diameter, tinggi,& faktor bentuk
 Kepadatan Bidang Dasar (KBD)‏
 yang menentukan : luas bidang dasar & jumlah pohon
 Luas Area (Ha)‏


Pertanyaan :
1. Jika dengan potensi tersebut apakah dapat menjamin kelestarian ?
2. Jika tidak menjamin bagaimana tindakannya ?

Jawaban
1 & 2. Kelestarian produksi tidak hanya ditinjau dari potensi produksi semata, oleh karena itu sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut. Terlebih lagi kita tidak mengetahui potensi pada jangka sebelumnya. Tetapi jika dilihat untuk volume pada KU muda yang besar dapat diasumsikan pada saat jangka berikutnya memiliki potensi tebangan yang cukup besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar